Amran tampak bangga. Sambil bercerita, ia beberapa kali merangkul Michael Rosihan Yacub (13 tahun). ”Michael, waktu olimpiade kemarin bisa dapat medali perak dan perunggu ya. Wah, hebat kan,” katanya sambil menepuk punggung Michael. Sementara yang dipuji hanya mesem-mesem saja.Kebanggaan Amran amat beralasan. Maklum Michael adalah salah seorang anak yang memiliki keterbatasan intelektual – lazim disebut tunagrahita. Bagi anak tunagrahita dapat berprestasi dalam arena Special Olympics Games 2003 di Dublin, Irlandia, beberapa waktu merupakan sebuah catatan emas. Tak mudah untuk berbicara di pentas dunia itu.